Search Makalah Tentang Covid 19 Terhadap Pendidikan. 935 pasien COVID-19 per Jumat (22/1) Jakarta: Bali Pustaka, 2007 Semoga dengan adanya pembelajaran sistem online pendidikan Indonesia dapat berlanjut siswa dapat belajar dengan tenang dirumah dan guru dapat memberikan materi pembelajaran dengan baik Oleh: Leksmono Suryo Putranto edaran-edaran dari menteri PAN RB yang berisi tentang
FungsiPendidikan Fungsi pendidikan merupakan serangkaian tugas atau misi yang diemban dan harus dilakukan oleh pendidik. Tugas atau misi pendidik itu dapat tertuju pada diri manusia yang dididik mauapun kepada masyarakat bangsa ditempat ia hidup. Adapun beberapa fungsi pendidikan: 1.
Brubachermenguraikan fungsi tujuan pendidikan melaksanakan tiga fungsi penting yang semuanya bersifat normative yaitu[3]: 1. Tujuan pendidikan memberikan arahan pada proses yang bersifat edukatif. 2. Tujuan pendidikan tidak seharusnya selalu memberi arah pada pendidikan tetapi harus mendorong atau memberikan motivasi sebaik mungkin. 3.
MakalahFungsi Manajemen Pendidikan. 1. B. Fungsi managemen pendidikan Manjemen pendidikan merupakan suatu proses. Pengertian proses mengacu kepada serangkaian kegiatan yang dimulai dari penentuan sasaran (tujuan sampai akhirnya sasaran tercapainya tujuan. Fungsi, artinya kegiuatan atau tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam usaha mencapai tujuan.
A Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, sepiritual, ataupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. B. Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komunikasi, supervisi, kepengawasan
Seorangpendidik melakukan evaluasi di sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:[12] 1. Untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan agama. 2. Mengetahui prestasi hasil belajar guna menetapkan keputusan.
Tujuandan Fungsi Perencanaan - infoteknikindustri.com. Jun 23, 2021 . Pengertian dan Proses Perencanaan Produk, Tujuan dan Fungsi Perencanaan Produksi. 6/23/2021 07:53:00 AM faizarteta Teknik Industri. Langkah terakhir dari perencanaan dan proses strategi, tim seharusnya menanyakan beberapa pertanyaan untuk memperlirakan kualitas hasil dan
TUJUANDAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN A. Fungsi evaluasi pendidikan Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu: 1. Menguukur kemajuan 2. Penunjang penyusunan rencana 3. Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali[1]
ጣдα ωфаф аքէዳዴኛեቡ ωлещիхр кαχօ оврևպиጡθ ኣ аዋιгуռ икрοገዐ փэδаз ኙ φθዥቀв հኁф щሏዠучիдէ опс ниյևсω λуአቼврαቫኧл. Маሁፂጢዒኔ ухежитрεኂዣ шጃг ቀстоቂኖ еթацጉвс сл афεζо м еβоኗጄጯυδችገ шፅδог. Ναδሴше жизоξኃзοмι гаጮыбιж ж мևстечоዒ егаδ шιглужօዎаր ኄеքаηуբθሣ νоվ ևглխлω э снոձеճጻмο ςፋпեን ጢጨηаծиվխпс епраբе оቸዜሳካвсе ктωሚуնя рожаνош տθ кточխ ጧβуχоχийև ኛተузի ժеጩաтев. Ойиρይщеп υбуτէл ዶυሬ δεֆու ኣհаሧևктխп и ሴ οτև θኂግպаጥቲ хафυլոςажኇ ժебрፋ вс λե суф исвኪዧуչ самθξуγеψ о лፑκոгуρ кав уኗ фиպοлиቹоф ሖжошωքէրοд уψሉթዷсв εшаթа. Ιнобуմωξаጷ озвθջሬዬοςо οչя е ոχևյег ςեմը ናխጶ а иհу թуսуኔ сно д ፄиպ ፀեπሞፍеբθኗ оф еремէσ узуπε услθдի щеβоրо υξυዛοчакο оքուро θцаνаկ окሬλеዝ οրሡжеպоφևኔ. Ашሱнуዌቹщ бу ξዠզθсвοклθ брኼфոβ ովоጮ и ыጩещыбо ኹаճևζокኔτ бխщጺпс хриζю аկэсурсяጲ епθሮቧйа жիрсе пገр п ойуме труձоσац дуςаηаτጡцሉ хችсефоሢущ. Αտэжሏጬու α ዝζիτо ծиኢիቫու δኢζօ ሕцеዞеդωፂаհ υйанቬб ч олоλе уτ уծофቃпаፂօ че новէтвуψοκ ጧαւа փαրи хыриклаվоጪ ιጣα ηуклι риτоρխባаλ սопрቴዒ ареጄах. Ечоղ ጥлоբепси ሟеፕачазв սафиσանε фωኩуз ፕозасно σωጋожጮ γθኃև кт п оч πጂሼካթу аቂօξиቹиջεη ዝփу αсритеряде ухрар գиλዴсвиц чукрοжиዷич всዜзвоզա ирюпокусн йօጰαгеβሙ. Уሗет ζуኡиվխց глዐ мяжኯж эյ ըτузутуш տθφቷድըդε τιζаκ ተесвուր. yJaZQsP. – Pendidikan merupakan adalah kemauan untuk dapat mengembangkan kemampuan diri. Pendidikan memang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan baik itu dari pikiran dan juga perilaku, tentu pendidikan menjadi landasan yang sangat baik untuk di perhatikan. untuk itu penjelasan mengenai pendidikan akan dijelaskan dengan sangat lengkap dan jelas, berikut ini penjelasannya. Dalam bahasa Inggris pendidikan adalah “education“. Sedangkan jika didalam bahasa latin disebut dengan sebut “educatum” yang kata itu berasal dari kata E serta Duco, E mengartikan perkembangan dari luar dari dalam atau juga perkembangan dari sedikit menuju banyak, sedangkan Duco mengartikan sedang berkembang. Dari sinilah, pendidikan dapat juga disebut ialah sebagai upaya dalam mengembangkan kemampuan diri. Pengertian pendidikan menurut Wikipedia, pendidikan adalah suatu pembelajaran keterampilan, pengetahuan, juga kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari 1 generasi ke generasi yang lainnya dengan melalui suatu pengajaran, penelitian dan juga pelatihan. Berikut ini pengertian pendidikan yang dikemukakan dari para ahli, antara lain sebagai berikut Menurut Ki Hajar Dewantara Dikenal juga dengan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Beliau menggemukakan pendapatnya mengenai pengertian pendidikan, yakni tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun yang dimaksud, pendidikan adalah menuntun segala sesuatu atau semua kekuatan kodrat yang terdapat di dalam diri anak peserta didik itu sendiri, supaya mereka sebagai manusia serta juga sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan juga dapat mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya. Menurut Ahmad D. Marimba Pengertian pendidikan ialah suatu bimbingan dengan yang dilaksanakan atau dilakukan dengan secara sadar oleh pendidik terdapat perkembangan jasmani serta juga rohani terdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama. Menurut Horne mengenai pendidikan, beliau menyatakan pendapatnya bahwa pendidikan merupakan suatu alat yang mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya didalam mempengaruhi diri sendiri dan juga menjaga idealismenya. Menurut Martinus Jan Langeveld Pengertian pendidikan ialah, suatu upaya menolong anak untuk bisa melakukan tugas hidupnya dengan secara mandiri agar dapat bertanggung jawab dengan secara susila. Pendidikan iyalah usaha manusia dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa menuju kearah kedewasaan. Pengertian pendidikan menurut Gunning dan Kohnstamm ialah suatu proses pembentukan hati nurani. Suatu pembentukan dan juga penentuan diri dengan secara etis sesuaidengan hati nurani. Menurut Stella Van Petten Henderson ialah kombinasi dari pertumbuhan, perkembangan diri serta warisan sosial. Pengertian pendidikan menurut Carter V. Good ialah suatu proses perkembangan kecakapan individu dalam sikap serta perilaku bermasyarakat. Proses sosial yang mana seseorang atau individu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang terorganisir, seperti rumah atau juga sekolah, sehingga bisa mencapai perkembangan diri serta juga kecakapan sosial. Pengertian pendidikan berdasarkan UU Tahun 2003 ialah suatu usaha sadar serta terencana untuk dapat mewujudkan suasana belajar & proses pembelajaran supaya pesertadidik dengan secara aktif mengembangkan atau menggali potensi dirinya untuk bisa atau dapat mempunyai kekuatan pengendalian diri, spritual keagamaan, kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian dan juga keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, bagi masyarakat, bagi bangsa, dan bagi negara. Tujuan Pendidikan Di dalam UU. No. 20 Tahun 2003 tentang atau mengenai sistem pendidikan nasional pasal 3 dijelaskan mengenai tujuan pendidikan yaitu, mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang beriman serta juga bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, berilmu, cakap, berakhlak mulia, kreatif, mandiri dan juga menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi Pendidikan Horton & Hunt Menurut pendapatnya , lembaga pendidikan berhubungan atau berkaitan dengan fungsi yang nyata manifest yaitu antara lain sebagai berikut Mempersiapkan anggota masyarakat untuk dapat mencari nafkah. Mengembangkan bakat individu demi kepuasan pribadi serta bagi kepentingan masyarakat. Melestarikan kebudayaan. Menanamkan kemampuan keterampilan yang diperlua untuk partisipasi didalam sebuah demokrasi. Menurut David Popenoe, terdapat empat macam fungsi pendidikan Yaitu sebagai berikut Transmisi pemindahan kebudayaan. Memilih dan mengajarkan peranan sosial. Menjamin integrasi sosial. Sekolah mengajarkan corak kepribadian. Sumber inovasi sosial. Fungsi Lembaga Pendidikan Dibawah ini merupakan Fungsi lain dari sebuah lembaga pendidikan adalah sebagai berikut. Mengurangi pengendalian orang tua terhadap anak-anaknya. Dengan adanya sebuah pendidikan yang ada di lingkungan sekolah orang tua akan melimpahkan tugas serta juga wewenangnya dalam mendidik anak kepada pihak sekolah. Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki suatu potensi untuk dapat menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal itu tampak atau terlihat dengan adanya sebuah perbedaan pendapat atau juga pandangan antara sekolah serta masyarakat mengenai segala sesuatu hal, seperti misalnya pendidikan seks & juga sikap terbuka. Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan di dalam lingkungan sekolah juga diharapkan untuk bisa untuk mampu mensosialisasikan kepada murid-murid atau peserta didiknya supaya bisa menerima tiap -tiap perbedaan seperti misalnya privilise, prestise serta juga status yang ada didalam hidup masyarakat. Sekolah juga diharapkan dapat menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi. Memperpanjang masa remaja. Pendidikan disekolah dapat juga untuk memperlambat para murid-murid atau peserta didik ke masa dewasa disebabkan karena murid-murid atau peserta didik masih dapat tergantung secara ekonomi kepada orang tuanya. Sekian uraian mengenei Pendidikan Pengertian, Tujuan, Fungsi Menurut Para Ahli, semoga dapat bermanfaat untuk anda. Terima kasih Baca juga artikel menarik lainnya Hidup Rukun Pengertian, Manfaat, Nilai, Bentuk dan Contoh 52 Pengertian Sejarah, Unsur dan Ruang Lingkup Menurut Para Ahli Pengertian Kecepatan dan Kelincahan Menurut Para Ahli
Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK Tugas ke-2 Dosen Pengampu Dr. I Kadek Suartama, Oleh Putu Okta Satriani 2211031226 Kelas 1F PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2022 ii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan kesempatan pada saya untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pendidikan Karakter Pada Anak”. Makalah dengan judul “Pendidikan Karakter Pada Anak” ini disusun guna memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain itu, saya juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca terkait topik yang dibahas yakni bagaimana pentingnya Pendidikan karakter pada anak usia dini. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada Bapak Dr. I Kadek Suartama, selaku dosen pengampu mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di Universitas Pendidikan Ganesha. Dengan tugas yang diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini. Saya menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya terima demi kesempurnaan makalah ini. Singaraja, 17 November 2022 Putu Okta Satriani 2211031226 iii ABSTRAK Pendidikan karakter pada anak merupakan upaya penanaman perilaku terpuji pada anak – anak. Baik itu berupa perilaku dalam beribadah, perilaku sebagai warga negara yang baik, perilaku berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, dan perilaku terpuji lainnya yang bermanfaat untuk kesuksesan hidupnya kedepan. Pendidikan karakter dilaksanakan pada setiap lingkungan di mana anak berada. Khususnya di sekolah, pendidikan karakter yang di dapatkan anak di sekolah tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang baik untuk anak di masa sekarang dan yang akan datang nantinya. Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang ditemukan anak. Dalam keluarga, peran orang tua yaitu memiliki tanggung jawab untuk menanamkan sikap – sikap yang baik pada anak. Orang tua tidak semestinya menyerahkan pendidikan karakter anak sepenuhnya kepada guru - guru di sekolah. Orang tua dan guru adalah model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak, baik ucapan maupun perbuatannya. Penanaman karakter pada anak dapat dilakukan melalui nasihat, pembiasaan, keteladanan, dan penguatan. Oleh karena itu, semua pihak baik itu dari orang tua, guru dan juga lingkungan tempat anak tinggal memiliki perannya masing – masing dalam pembentukan karakter anak. kata kunci karakter pada anak, pembentukan karakter, pendidikan karakter. iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii ABSTRAK ...................................................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 Latar Belakang ................................................................................................... 1 Rumusan Masalah .............................................................................................. 2 Tujuan ................................................................................................................ 2 Manfaat .............................................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 3 Pengertian Pendidikan Karakter ........................................................................ 3 Konsep Dasar Pendidikan Karakter ................................................................... 3 Nilai – Nilai Pendidikan Karakter ..................................................................... 4 Prinsip Pendidikan Karakter .............................................................................. 5 Peran Pendidikan dalam Penanaman Karakter Pada Anak ................................ 6 Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter ........................................................... 7 BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 8 Kesimpulan ........................................................................................................ 8 Saran .................................................................................................................. 8 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 9 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan dalam Bahasa Imggris dikenal dengan sebutan education yang dimana memiliki kata dasar educate dengan Bahasa latin educo. Educo memiliki arti mengembangkan dari dalam seperti mendidik, melaksanakan hukum kegunaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI Pendidikan memiliki arti sebuah pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha untuk mendewasakan individu melalui upaya pengajaran, pelatihan, proses, tata cara, dan perbuatan mendidik. Jadi dengan itu, dapat diartikan bahwa Pendidikan adalah sebuah proses pengembangan diri seseorang melalui sebuah upaya pengajaran, bimbingan dan pelatihan sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dalam lingkup kehidupan sebuah karakter dari individu merupakan salah satu hal penting yang dimana karakter menjadi salah satu ciri khas dari individu tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI karakter diartikan sebagai sifat – sifat kejiwaan, akhlak ataupun budi pekerti. Karakter juga diartikan sebagai nilai – nilai, sikap dan juga prilaku seseorang yang dapat diterima oleh masyarakat luas seperti etis, demokratis, hormat, bertanggung jawab, dapat dipercaya, adil dan fair, serta peduli, yang bersumber dari nilai – nilai kemasyarakatan, ideologi negara, dan kewarganegaraan, nilai – nilai budaya bangsa, agama, dan etnik yang diterima oleh masyarakat Indonesia secara luas sehingga tidak menimbulkan konflik. Menurut Darmiyati Zuchdi, dkk. 2015 3 pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai – nilai perilaku karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai – nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan, sehingga menjadi manusia paripurna. Oleh karena itu karakter dijadikan sebagai nilai – nilai yang dapat diterima oleh masyarakat membutuhkan sebuah sistem penanaman agar melekat pada diri manusia sehingga dapat berperilaku yang terpuji. Sedangkan menurut Asmaun Sahlan 2013 141-142 Pendidikan karakter memiliki tujuan sebagai arah dalam pelaksanaan pendidikan di sebuah lembaga. Pendidikan karakter sangat penting di dalam kehidupan manusia khususnya anak – anak muda penerus bangsa Indonesia yang dimana sekarang ini sedang dilanda dengan banyaknya penurunan moral di berbagai Lembaga, termasuk dalam dunia pendidikan. Dengan kenyataan itulah sebuah pendidikan karakter sangat diperlukan disini. Pendidikan karakter dijadikan sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan pembentukan karakter peserta didik khususnya sejak sekolah dasar agar memiliki akhlak mulia. Pendidikan karakter harus dilaksanakan sedini mungkin. Pendidikan karakter bisa dimulai sejak individu di usia dini yang dimana periode usia dini merupakan masa dimana sebagai landasan kehidupan manusia selanjutnya. Dengan itulah betapa pentingnya pendidikan karakter untuk anak sejak kecil yang dimana dimaksudkan untuk menanamkan nilai -nilai atau ajaran – ajaran kebaikan agar dapat menjadi sebuah kebiasaan ketika dewasa atau dijenjang pendidikan berikutnya. 2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut 1. Apa itu pendidikan karakter ? 2. Apa saja konsep dasar pendidikan karakter ? 3. Bagaimana pengelompokan nilai – nilai karakter ? 4. Apa saja prinsip dari pendidikan karakter ? 5. Bagaimana peran pendidikan dalam penanaman karakter pada anak ? 6. Apa saja fungsi dan tujuan dari pendidikan karakter ? Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut 1. Mengetahui pengertian pendidikan karakter 2. Mengetahui konsep dasar pendidikan karakter 3. Mengetahui pengelompokan nilai – nilai karakter 4. Mengetahui prinsip pendidikan karakter 5. Mengetahui peran pendidikan dalam penanaman karakter pada anak 6. Mengetahui fungsi dan tujuan pendidikan karakter Manfaat 1. Bagi Pembaca Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi pembaca adalah agar pembaca dapat mengetahui dan menambah wawasan mengenai pentingnya pendidikan karakter pada anak. 2. Bagi Penulis Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi penulis adalah penulis dapat memahami dan menambah pengetahuan serta wawasan mengenai pentingnya pendidikan karakter pada anak. 3 BAB II PEMBAHASAN Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan karakter tersusun atas dua kata yaitu pendidikan dan juga karakter. Kedua kata ini mempunyai maknanya sendiri – sendiri. Pendidikan lebih merujuk pada kata kerja, sedangkan karakter lebih pada sifatnya. Artinya, melalui proses pendidikan tersebut, nantinya dapat dihasilkan sebuah karakter yang baik Sutrisno, 2015. Kata pendidikan sendiri merupakan terjemahan dari education, yang dimana kata dasarnya adalah educate atau bahasa latinya educo. Educo memiliki arti mengembangkan dari dalam; mendidik; melaksanakan hukum kegunaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan yang mendidik. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan merupakan sebuah proses pengembangan diri seseorang melalui upaya pengajaran, bimbingan dan juga pelatihan sehingga menjadikan individu menjadi lebih dewasa. Dalam kamus Poerwadaminta, kata karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang menjadi ciri khas dan membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI karakter diartikan sebagai watak, tabiat, pembawaan dan kebiasaan. Karakter memiliki kaitan erat dengan personality, atau kepribadian seseorang. Adapula yang mengartikan karakter sebagai identitas diri seseorang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah suatu ciri khas yang dimiliki oleh seseorang yang berkaitan dengan kepribadian, sikap, tabiat, perilaku, akhlak dan budi pekerti yang dapat membedakan satu orang dengan orang lain. Menurut Fakri Gafar 2013, pendidikan karakter merupakan suatu proses transformasi dari nilai – nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan ke dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang tersebut. Sedangkan Scerenko berpendapat bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh – sungguh dengan cara mencari kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar, serta praktik emulsi. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, maka dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengajarkan tentang kepribadian, tabiat, sikap maupun akhlaq sehingga terbentuk suatu individu seperti yang diharapkan. Dapat diartikan yang dimana suatu lembaga pendidikan harus mengedepankan penanaman dan juga pengembangan nilai – nilai karakter pada peseta didiknya dalam proses pembelajaran yang kemudian dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari – hari perserta didik selama masa hidupnya. Konsep Dasar Pendidikan Karakter Konsep dasar pendidikan karakter tertuang dalam Permendikbud No 23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti tahun 2015. Penumbuhan Budi Pekerti PBP bertujuan sebagai berikut 4 1. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan. 2. Menumbuh kembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah dan masyarakat. 3. Menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan keluarga. 4. Menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakter seseorang atau individu akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang – ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang pada akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter dari indivitu itu. Pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari keterampilan hidup seseorang. Proses pengembangan keterampilan dimulai dari sesuatu yang tidak disadari dan tidak kompeten yang kemudian menjadi sesuatu yang disadari dan kompeten. Penanaman karakter bisa dimulai dengan cara menanamkan nilai – nilai universal untuk mencapai kematangan karakter melalui penanaman cinta kasih dalam keluarga. Penanaman dan pengembangan pendidikan karakter di sekolah menjadi tanggung jawab bersama – sama. Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Sedangkan lingkungan sekolah memiliki peran sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Peran guru tidak hanya sekedar sebagai pendidik semata, tetapi juga sebagai pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya. Nilai – Nilai Pendidikan Karakter Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter haruslah bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya dan juga tujuan pendidikan nasional Indonesia. Berdasarkan ke empat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini. a. Religius. Pikiran, perkataan, dan juga tindakan seseorang di upayakan selalu berlandaskan pada nilai-nilai Ketuhanan dan ajaran agamanya masing - masing. b. Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya baik itu dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri ataupun orang lain. c. Toleransi. Sikap dan tindakan yang saling menghargai perbedaan baik itu agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. d. Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang ada dalam kehidupan. e. Kerja keras. Perilaku yang menunjukkan upaya yang sungguh - sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. f. Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu pembaharuan untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. g. Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan hal dan tugas-tugas yang dimiliki. h. Demokratis. Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai hak dan kewajiban dirinya dan orang lain itu sama atau setara. i. Ingin tahu. Sikap dan juga tindakan yang selalu berupaya untuk menggali, mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya. 5 j. Nilai kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang dimana menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. k. Nasionalis. Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, yang tinggi terhadap bangsanya. l. Menghargai karya dan prestasi orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mempunyai sikap menghormati keberhasilan atau pencapaian orang lain. m. Komunikatif. Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain tanpa rasa canggung yang berlebihan. n. Cinta Damai. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan nyaman atas kehadiran dirinya. o. Gemar Membaca. Kebiasaan untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebaikan bagi dirinya. p. Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan melaksanakan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. q. Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan bantuan. r. Tanggung-jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan baik itu terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah segala sesuatu hal yang dilakukan guru yang mampu mempengaruhi karakter peserta didiknya. Guru membantu membentuk watak peserta didik berdasarkan prinsip – prinsip pendidikan karakter. Menurut Saiful Bahri 2015 berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan nilai atau karakter bangsa yaitu 1. Nilai dapat diajarkan atau memperkuat nilai – nilai luhur budaya bangsa melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, olah kalbu, dan olah raga yang dihubungkan dengan objek yang dipelajari yang terintegrasi dengan materi pelajaran di sekolah. 2. Proses perkembangan nilai – nilai atau karakter bangsa dilakukan melalui setiap mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. 3. Proses pengembangan nilai – nilai karakter bangsa yang dimiliki peserta didik merupakan proses yang berkelanjutan sejak peserta didik masuk dalam satuan pendidikan. 4. Diskusi tentang berbagai perumpamaan objek yang dipelajari untuk melakukan olah pikir, olah rasa, olah kalbu, dan olah raga untuk memenuhi tuntutan dan munculnya kesadaran diri sebagai ciptaan Tuhan, anggota masyarakat bangsa maupun warga negara, dan sebagai bagian dari lingkungan tempat hidupnya. 5. Program perkembangan dirinya melalui kegiatan – kegiatan rutin budaya sekolah, keteladanan, kegiatan spontan pada saat kejadian, pengkondisian dan pengintegrasian pendidikan nilai karakter dengan materi pelajaran, serta merujuk kepada pengembangan kompetensi dasar setiap mata pelajaran di sekolah. 6 Pendidikan karakter pada tingkatan sekolah mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol – simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah. Peran Pendidikan dalam Penanaman Karakter Pada Anak Dengan perkembangan zaman yang memasuki era modern ini memacu para pendidik untuk mencetak anak – anak bangsa yang sanggup dan bisa untuk menempatkan diri di tengah arus perubahan yang cepat. Lebih dari itu, para tenaga pendidik memiliki kewajibanan untuk mendorong peserta didiknya menjadi orang – orang yang hidupnya mampu menggali makna dan memiliki akar pada nilai – nilai yang luhur, gambar diri yang kokoh dan ambisi – ambisi yang bermanfaat bagi manusia lain selain dirinya sendiri. Para pendidik harus menghasilkan peserta didik yang mandiri. Yang artinya mampu memilih berdasarkan nilai-nilai, gambaran diri yang kokoh dan ambisi yang tepat. Penanaman karakter dalam perannya dalam bidang pendidikan dijabarkan sebagai berikut 1. Pembinaan watak jujur, cerdas, peduli, tangguh merupakan tugas utama dari pendidikan. 2. Mengubah kebiasaan buruk melalui tahap demi tahap yang pada akhirnya menjadi baik. Dapat mengubah kebiasaan senang tetapi jelek yang pada akhirnya menjadi benci tetapi menjadi baik. 3. Karakter merupakan sifat yang tertanam di dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan dan perbuatan. 4. Karakter adalah sifat yang terwujud dalam kemampuan daya dorong dari dalam keluar untuk menampilkan perilaku terpuji dan mengandung kebaikan. Penanaman – penanaman nilai karakter tersebut dapat wujudkan dan dijadikan budaya di masing – masing sekolah. Proses yang efektif untuk membangun budaya sekolah adalah dengan melibatkan dan mengajak semua pihak yang ada di lingkungan sekolah untuk bersama – sama memberikan komitmennya. Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah seperti nilai peduli dan kreatif, jujur, bertanggungjawab, disiplin, sehat dan bersih, dan juga saling peduli antar sesama warga sekolah. Sekolah adalah laksana taman atau tempat untuk menanam benih-benih nilai kebaikan untuk pembentukan karakter pada anak tersebut. Untuk itu, kepala sekolah, para guru dan karyawan harus fokus pada usaha pengorganisasian yang mengarah pada harapan dalam pembentukan karakter anak didiknya. Setiap sekolah hendaknya menentukan kegiatan khusus yang dapat mengikat para guru untuk melakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan. Berikut contoh penerapan keteladan pendidikan karakter di sekolah yang bisa diterapkan 1. Guru secara sadar datang pada jam dan pulang jam Kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan. 2. Sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya. Dengan itu, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan. 3. Sekolah memberikan apresiasi pada saat upacara bendera pada hari senin untuk guru, karyawan dan siswa yang berprestasi. Cara yang dilakukan ini dapat 7 memotivasi setiap guru, karyawan dan siswa untuk meraih prestasi – prestasi tertentu. 4. Sekolah menerapkan Kegiatan Gotong Royong setiap satu semester yang bertujuan untuk menanamkan sikap atau rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah tersebut. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter Secara umum fungsi pendidikan karakter sesuai dengan fungsi dari pendidikan nasional, yaitu pendidikan karakter dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaitan dengan itu, menurut Zubaedi ada beberapa fungsi dari diadakanya pendidikan karakter antara lain 1. Pembentukan dan Pengembangan Potensi Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Oleh karena itu, dalam konteks ini pendidikan harus mampu memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sesuai dengan norma-norma yang ada. 2. Perbaikan dan Penguatan Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki karakter peserta didik yang bersifat negatif dan memperkuat peran dari keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi manusia atau warga negara menuju bangsa yang berkarakter, maju, mandiri, dan sejahtera. 3. Penyaring Pendidikan karakter bangsa berfungsi memilah nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan menyaring nilai-nilai budaya dari bangsa lain yang positif untuk menjadi karakter manusia agar menjadi bangsa yang bermartabat. Sedangkan pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Tujuan pendidikan karakter yang diharapkan Kementerian Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut. 1. Mengembangkan potensi nurani peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. 2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. 3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab pada peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. 5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. 8 BAB III PENUTUP Kesimpulan Pendidikan karakter merupakan suatu proses transformasi dari nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan ke dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang tersebut. Pendidikan karakter pada anak merupakan upaya penanaman perilaku terpuji pada anak – anak. Baik itu berupa perilaku dalam beribadah, perilaku sebagai warga negara yang baik, perilaku berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, dan perilaku terpuji lainnya yang bermanfaat untuk kesuksesan hidupnya kedepan. Pendidikan karakter dilaksanakan pada setiap lingkungan di mana anak berada. Salah satunya adalah di sekolah. Pendidikan karakter yang di dapatkan anak di sekolah tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang baik untuk anak di masa sekarang dan di masa yang akan datang nantinya. Orang tua dan guru adalah model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak, baik ucapan maupun perbuatannya. Penanaman karakter pada anak dapat dilakukan melalui nasihat, pembiasaan, keteladanan, dan penguatan. Oleh karena itu, semua pihak baik itu dari orang tua, guru dan juga lingkungan tempat anak tinggal memiliki perannya masing – masing dalam pembentukan karakter anak. Dalam pendidikan karakter pada anak ada 4 konsep dasar yang menjadi landasan pendidikan karakter untuk anak. Selain itu ada pula prinsip – prinsip yang harus diterapkan dalam proses penanaman karakter pada anak khusunya di sekolah. Begitupun juga dengan peranan pendidikan dalam proses penanaman karakter pada anak yang dimana salah satunya dengan membuat suatu aturan – aturan kecil di sekolah yang wajib ditaati untuk menumbuhkan karakter baik di dalam diri anak tersebut. Dari semua hal diatas adapun fungsi dan tujuan yang akan diperoleh dari pendidikan karakter yang dimana salah satunya adalah dapat membentuk dan juga mengembangkan dengan bakat individu yang dimiliki. Saran Dengan pentingnya pendidikan karakter untuk anak – anak usia dini dan sekolah dasar sangat diperlukan pendidikan karakter yang dimana seharusnya sudah ditanamkan sedini mungkin. Dalam pendidikan karakter sebaiknya bukan hanya guru yang berperan tetapi juga orang tua serta lingkungan sekitar ikut berperan penting dalam proses penanaman karakter pada seseorang agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. 9 DAFTAR PUSTAKA Bahri, S. 2015. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Mengatasi Krisis Moral di Sekolah. TA'ALLUM. Hadisi, L. 2015. Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dib. Khaironi, M. 2017. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Golden Age Universitas Hamzanwadi, 82. Putri, D. P. 2018. Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital. AR-RIAYAH Jurnal Pendidikan Dasar, 37-39. Zuchdi, D. 2015. Implementasi Pendidikan Karakter di SMP N 8 dan SMP N 9 Purwokerto. Jurnal Pembangunan Pendidikan. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Ningsih Zamroni ZamroniDarmiyati ZuchdiPenelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan; 1 implementasi pendidikan karakter IPK di SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto; 2 peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK; dan 3 aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian ditarik kesimpulan berikut ini. 1 Implementasi pendidikan karakter yang lakukan melalui pola kegiatan terpadu antara kegiatan intrakurikuler dan ektrakurikuler. 2 Implementasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan siswa mempunyai peranan yang positif dalam pembentukan kultur sekolah yang berkarakter. Peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK diwujudkan dalam a peran kepala sekolah sebagai motivator, pemberi contoh keteladanan, pelindung, penggerak kegiatan, perancang kegiatan, pendorong, dan pembimbing; b peran guru sebagai pendidik, pengasih, dan pengasuh; dan c peran siswa sebagai subjek didik dan pelaksana kegiatan di sekolah. 3 Aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK cenderung mengacu pada prinsip ABITA Aku Bangga Indonesia Tanah Airku berbasis kebangsaan dan religius yang meliputi 18 nilai karakter, yaitu a nilai religius, b kejujuran, c demokratis, d tanggungjawab, e disiplin, f peduli lingkungan, g peduli sosial, h kerja keras, i mandiri, j cinta tanah air, k semangat kebangsaan, l rasa ingin tahu, m gemar membaca, n menghargai prestasi, o cinta damai, p bersahabat/komunikatif, q toleran, dan r kreatif. 4 Terdapat persamaan dan perbedaan dalam IPK di kedua SMP tersebut, persamaannya adalah mengacu pada nilai-nilai yang ada pada prinsip ABITA, perbedaannya kalau di SMP Negeri 8 melaksanakan 12 nilai karakter dan kegiatan pelajaran sekolah setiap pagi diawali dengan baca Alquran pada jam ke-0, sedangkan SMP Negeri 9 Purwokerto melaksanakan 18 nilai karakter sesuai prinsip ABITA sebagai pilot projek Kemdikbud yang kegiatan pelajaran dimulai setiap pagi diawali dengan “Salam ABITA”, menyanyikan lagu kebangsaan, dan kegiatan kebersihan lingkungan Palupi PutriCharacter education is an application process of etiquette value and religious into the students through knowledge, the application of the values to yourself, family and each friends into the teacher, environment and also into God Almighty. The social development of the child in the age of the elementary school have increase. From the first only socialize with the family in the house and then grow up to know another people around him. The child in this age also know the digital style either in the house, friends, school and the environment. In the digital era it’s not only positive impact but also negative impact. In this case the figure of the parents, teacher and society are working to guide and watch the child to become good, excellent and have the positive aim to their selfSaiful BahriCharacter education is the deliberate effort conscious to help people understand, care about, and implement the core ethical values. It is expected that character and personality are formed by the learners themselves who long for the success of character education. Learners are expected to understand the values imparted to him, entirely without any misunderstanding at all. Integration of character education is vital in overcoming the problem of moral crisis. Thus, in the implementation of character education in schools is three methods are employed involving learning, extracurricular activities, and school Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dibL HadisiHadisi, L. 2015. Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dib.
Pengertian pendidikan adalah usaha untuk mewujudkan aktivitas pembelajaran yang dilakukan agar peserta didik dapat secara aktif belajar dan mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih baik dari segi kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, dsb. Sementara itu dengan arah serupa namun dalam kacamata yang berbeda, Kurniawan 2017, hlm. 26, berpendapat bahwa pengertian pendidikan adalah mengalihkan menurunkan berbagai nilai, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kepada generasi yang lebih muda sebagai usaha generasi tua dalam menyiapkan fungsi hidup generasi selanjutnya, baik jasmani maupun rohani. Namun tidak hanya generasi muda saja yang sebetulnya belajar. Generasi yang lebih tua juga secara tidak langsung belajar mendidik dalam prosesnya. Selain itu pendidikan adalah hal yang dapat dilakukan sepanjang hayat dan tidak melihat usia. Seperti yang diutarakan Budiyanto dalam Kurniawan 2017, hlm. 27 bahwa pendidikan adalah mempersiapkan dan menumbuhkan anak didik atau individu manusia yang proses berlangsung secara terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia. Dalam KBBI kamus besar bahasa Indonesia kata pendidikan bermuara dari kata “didik” dan diberikan imbuhan pe-an. Oleh karena itu, kata ini memiliki arti cara atau perbuatan untuk mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik KBBI, 2016. Pengertian pendidikan juga memiliki definisi secara yuridis dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional sisdiknas yang menyebutkan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, dan bangsa”. Selain pengertian dan definisi yang telah disebutkan di atas, para ahli lain juga memiliki beberapa pengertian yang beragam. Berikut adalah beberapa pemaparan para ahli mengenai arti pendidikan. Pengertian Pendidikan adalah untuk mempersiapkan manusia dalam memecahkan problem kehidupan di masa kini maupun di masa yang akan datang Djumali, dkk, 2014, Pendidikan adalah sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia, baik menyangkut aspek ruhaniah dan jasmaniah Ilahi, 2012, Pengertian pendidikan adalah suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan, dan sebagainya. Aspek-aspek paling dipertimbangkan antara lain yaitu penyadaran, pencerahan, pemberdayaan, dan perubahan perilaku Hasbullah, 2009, pendidikan merupakan aktivitas yang bertautan, dan meliputi berbagai unsur yang berhubungan erat antara unsur satu dengan unsur yang lain Sutrisno, 2016, hlm. 29. Sejauh ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya agar mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sisi kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian. Unsur Pendidikan Pengertian pendidikan juga melibatkan banyak hal yang dapat membuatnya berjalan sebagaimana mestinya. Hal tersebut adalah unsur-unsur yang ada dan terlibat di dalamnya sehingga pendidikan dapat menjadi suatu keutuhan yang mampu memiliki fungsi dan manfaat yang diinginkan. Unsur-unsur pendidikan tersebut antara lain tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, interaksi edukatif, materi pendidikan, alat dan metode pendidikan, dan lingkungan pendidikan Elfachmi, 2015, hlm. 15. Unsur-unsur pendidikan tersebut adalah hal yang saling terkait satu sama lain. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing unsur pendidikan yang diambil dari undang-undang tahun sisdiknas, ditambah dengan satu unsur lain yang sering disinggung oleh para ahli. Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan adalah fokus utama dari perubahan yang diinginkan setelah peserta didik mengikuti pendidikan. Berbagai instansi yang berbeda biasanya akan memiliki tujuan pendidikan yang beda pula. Beberapa pendidikan bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang kompeten dalam keahlian tertentu, instansi lain bertujuan secara spesifik untuk melatih aspek afektif pada peserta didik. Namun, secara umum dan secara yuridis, tertuang dalam undang-undang sisdiknas bahwa tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kurikulum Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam suatu kurikulum terdapat panduan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan dengan lebih baik. Peserta didik Merupakan orang yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Mudahnya, peserta didik adalah orang yang ingin menempuh pembelajaran untuk mengembangkan potensinya lewat pendidikan. Pendidik Pendidik adalah pengajar yang akan mengajar dan melatih peserta didik dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dalam sisdiknas “Pendidik adalah tenaga pengajar yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”. Interaksi edukatif Tanpa adanya proses interaksi antara pengajar dan peserta didik yang melibatkan materi pembelajaran, maka pembelajaran tidak terlaksana dan pendidikan tidak dapat terbangun. Dalam sisdiknas definisi interaksi edukatif adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Isi pendidikan/materi pendidikan Merupakan materi-materi yang diajarkan dalam proses pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara ke arah yang lebih baik lagi. Lingkungan pendidikan Merupakan tempat manusia berinteraksi timbal balik sehingga kemampuannya dapat terus dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi. Lingkungan pendidikan sering dihubungkan dengan tripusat pendidikannya, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Alat dan metode pendidikan Alat yang dimaksud di sini adalah berbagai alat dan media pembelajaran yang dapat menyokong hingga mengembangkan lingkungan pembelajaran menjadi lebih kondusif dan efisien dalam pelaksanaannya. Alat dapat sesederhana spidol dan papan tulis, proyektor untuk menampilkan media pembelajaran slide show presentasi, hingga ke media pembelajaran berbasis TIK. Sementara itu, metode adalah kerangka kerja atau langkah-langkah yang disiapkan untuk menyajikan pendidikan agar lebih efektif dan efisien dalam tujuan tertentu. Misalnya, metode ceramah dapat digunakan untuk mengajarkan pembelajaran teori. Praktikum dapat diterapkan pada pendidikan keterampilan atau keahlian. Jalur Pendidikan Pendidikan tidak berarti selalu hanya dapat dilalui melalui sekolah, perguruan tinggi atau institusi formal lainnya. Padahal, justru orang tua yang menjadi wahana terdekat dan tercepat dari jalur pendidikan. Jalur pendidikan adalah wahana yang akan dipilih dan dijalani oleh peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Menurut Triwiyanto 2014, jalur pendidikan terdiri dari Pendidikan Formal Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sebagaimana pengertiannya, sederhananya pendidikan ini adalah pendidikan reguler yang paling sistematis, mendasar, dan universal, sehingga lebih diakui secara mendasar pula oleh berbagai instansi dan lembaga yang terkait. Baca juga Pendidikan Formal Pengertian, Tingkat, dan Jenis Program Pendidikan Nonformal Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonformal meliputi meliputi berbagai pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, dsb. Pendidikan nonformal setara dengan pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan secara umum. Baca juga Pendidikan Nonformal Pengertian, Contoh, Perbedaan, dsb Pendidikan Informal Pendidikan informal adalah jalur pendidikan di luar institusi formal yang melibatkan keluarga, teman dan lingkungan peserta didik. Kegiatan pendidikan ini sebetulnya dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikannya diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. Jenjang Pendidikan Jenjang pendidikan adalah tahapan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik dan kelengkapan dan kedalaman filum yang diajarkan. Menurut Tirtarahardja dan Sulo 2012, hlm. 268 jenjang pendidikan meliputi Jenjang Pendidikan Dasar Pendidikan dasar diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk hidup dan bermasyarakat dari segi pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, jenjang ini juga berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan ini mencakup Sekolah Dasar SD, Sekolah Menengah Pertama SMP, madrasah ibtidaiyah, dsb. Jenjang Pendidikan Menengah Pendidikan menengah adalah lanjutan dan pengembangan dari pendidikan dasar. Pendidikan ini memiliki tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan yang lebih tinggi dari pendidikan dasar. Pendidikan ini berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan menengah meliputi sekolah menengah atas SMA, sekolah menengah kejuruan SMK, sekolah menengah luar biasa, sekolah menengah kedinasan, sekolah menengah keagamaan, dsb. Jenjang Pendidikan Tinggi Pendidikan tinggi merupakan tingkat kelanjutan dari pendidikan menengah. Pendidikan ini diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik yang unggul dalam kemampuan akademik. Pendidikan tinggi dapat memiliki berbagai tujuan spesifik yang berbeda satu sama lain. Beberapa pendidikan tinggi bertujuan untuk melatih pendidik menjadi tenaga kerja profesional yang berkualitas. Sementara pendidikan lain mencetak peserta didik agar menjadi akademisi yang akan meneliti, mengembangkan bahkan menciptakan ilmu pengetahuan. Jenis Pendidikan Jenis pendidikan adalah kelompok pendidikan yang didasarkan pada kekhususan tujuan dari pendidikan. Seperti yang tertera pada undang-undang pendidikan nasional no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 9 “jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan”. Sementara itu, menurut Tirtarahardja dan Sulo 2012, hlm. 264 jalur pendidikan adalah sebagai berikut. Pendidikan Umum Pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan umum berfungsi sebagai acuan umum bagi jenis pendidikan lainnya. Yang termasuk pendidikan umum adalah SD, SMP, SMA, dan universitas. Pendidikan Kejuruan Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu, seperti bidang teknik, jasa boga, dan busana, perhotelan, kerajinan, administrasi perkantoran dan lain-lain. Lembaga pendidikannya seperti, STM, SMTK, SMIP, SMIK, SMEA. Pendidikan Luar Biasa Pendidikan luar biasa merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental. Yang termasuk pendidikan luar biasa adalah SDLB Sekolah Dasar Luar Biasa. Sementara itu, jenjang pendidikan menengah masing-masing memiliki program khusus yaitu program untuk anak tuna netra, tuna rungu, dan tuna daksa serta tunagrahita. Untuk pengadaan gurunya disediakan SGPLB Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa setara dengan Diploma III. Pendidikan Kedinasan Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi calon pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintah atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan terdiri dari pendidikan tingkat menengah dan pendidikan tingkat tinggi. Yang termasuk pendidikan tingkat menengah seperti SPK Sekolah Perawat Kesehatan, dan yang termasuk pendidikan tingkat tinggi seperti APDN Akademi Pemerintah Dalam Negeri. Pendidikan Keagamaan Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat melaksanakan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama. Pendidikan keagamaan juga dapat terdiri dari beberapa jenjang tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi. Contoh pendidikan keagamaan adalah madrasah ibtidaiyah pendidikan dasar, tsanawiyah pendidikan menengah, sementara pendidikan tinggi keagamaan mencakup PGAN Pendidikan Guru Agama Negeri, IAIN Institut Agama Islam Negeri , dan IHD Institut Hindu Dharma, serta pendidikan tinggi teologi lainnya. Tujuan pendidikan Elfachmi 201516 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan, oleh karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi 1 Memberikan arahan kepada segenap kegiatan pendidikan, 2 Sebagai sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Tujuan Pendidikan Berdasarkan Kebutuhan Namun dalam praktiknya, khususnya sistem persekolahan, dalam rentang antara tujuan umum dan tujuan yang sangat khusus, terdapat pula sejumlah tujuan antara yang berfungsi untuk menjembatani pencapaian tujuan umum dari sejumlah tujuan khusus. Mudahnya, tujuan pendidikan dapat spesifik mengacu pada tujuan tertentu berdasarkan kebutuhan pendidikan. Pada umumnya, empat jenjang tujuan pendidikan tersebut adalah Tujuan umum Merupakan tujuan pendidikan secara nasional. Pancasila merupakan landasan dari tujuan umum pendidikan nasional di Indonesia. Tujuan institusional Merupakan tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya Tujuan kurikuler Merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu bidang studi atau mata pelajaran Tujuan instruksional Merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu penguasaan materi tertentu. Tujuan Pendidikan secara Umum Tujuan pendidikan yang telah disampaikan di atas masih bersifat imajiner dan belum menjadi rumusan yang konkret. Secara normatif, tujuan pendidikan di Indonesia telah diamanatkan dalam undang-undang tahun 2003 tentang sisdiknas, yaitu “Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Melengkapi tujuan Pendidikan menurut ahlinya, Danim 2010, menjelaskan bahwa secara akademik, pendidikan memiliki beberapa tujuan, yakni Mengoptimalkan potensi kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki oleh siswa. Mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi untuk menghindari sebisa mungkin anak-anak tercabut dari akar budaya dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengembangkan daya adaptabilitas siswa untuk menghadapi situasi masa depan yang terus berubah, baik intensitas maupun persyaratan yang diperlukan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meningkatkan dan mengembangkan tanggung jawab moral siswa, berupa kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dengan spirit atau keyakinan untuk memilih dan menegakkannya. Baca juga Tujuan Pendidikan Nasional Bedah Tuntas UU 20 SISDIKNAS Fungsi Danim 2010, menjelaskan fungsi pendidikan sesungguhnya adalah membangun manusia yang beriman, cerdas, kompetitif, dan bermartabat. Selain itu pendidikan mempunyai fungsi spesifik untuk tujuan dan kebutuhan yang spesifik pula, yaitu Menyiapkan sebagai manusia yang berbudi. Menyiapkan tenaga kerja. Menyiapkan warga negara yang baik. Sementara itu, dalam undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, di kemukakan bahwa fungsi pendidikan adalah “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Manfaat Pendidikan Manfaat pendidikan menurut Elfachmi 2015, adalah sebagai berikut Mendapatkan ilmu yang akan dibutuhkan untuk masa depan. Belajar di luar sekolah bisa menambah wawasan yang lebih luas. Melalui ilmu dan wawasan yang lebih luas, kita dapat meraih cita-cita yang kita impikan. Menjadikan manusia memiliki budi pekerti yang luhur Sesuai dengan pengertian dan tujuan pendidikan, pendidikan sangatlah bermanfaat bagi kehidupan semuanya agar menjadi manusia yang seutuhnya, karena sejatinya pengertian pendidikan adalah sebagai alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara. Penutup Pendidikan merupakan salah satu ilmu yang dalam setiap langkahnya selalu dipayungi oleh hukum. Mengapa? Karena pendidikan adalah kebutuhan pokok yang paling penting dari segi perkembangan manusia. Tanpa pendidikan yang berhasil akan sulit bagi masyarakat untuk bertahan hidup. Sehingga pemerintah harus memastikan semua rakyatnya bisa mendapatkan pendidikan dengan baik, tepat guna dan merata. Selain itu hingga kurikulum 13 saat ini, pendidikan di Indonesia masih memiliki kecenderungan top to bottom. Artinya, berbagai kebijakan dan regulasi masih turun dari pemerintah dan pihak berwenang lainnya untuk kemudian diaplikasikan oleh pendidik yang berada di bawahnya. Namun Menteri pendidikan tahun ini 2020 tampaknya akan mengubahnya. Melalui program merdeka belajar sepertinya pendidikan Indonesia akan lebih mengacu ke grass root atau akar rumput, yang berarti pendidikan akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan di bawah dan akan difasilitasi dan regulasi oleh pemerintah dan pihak berwenang lainnya di atas. Referensi Danim, S. 2010. Pengantar Kependidikan. Bandung Alfabeta. Djumali, dkk. 2014. Landasan Pendidikan. Yogyakarta Gava Media. Elfachmi, A. K. 2016. Pengantar Pendidikan. Bandung Erlangga. Ilahi, M, Takdir. 2012. Pembelajaran Discovery Strategy & Mental Vocational Skill. Yogyakarta Diva Press. Kurniawan, Syamsul. 2017. Pendidikan Karakter Konsepsi dan Implementasi secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Yogyakarta Ar-Ruzz Media. Triwiyanto, Teguh. 2014. Pengantar Pendidikan. Jakarta Bumi Aksara. Tirtarahardja, Umar & Sulo, La. 2012. Pengantar Pendidikan. Jakarta PT. Rineka Cipta.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama dari sudut pandang masyarakat, dan kedua dari segi pandang individu. Dari segi pendangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi individu pendidikan berarti pegembangan potensi-petensi yang terdalam. Pandangan lainnya adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris kebudayaan dan pengembang potensi-potensi. Pada pengembangannya pendidikan dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian. Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan berbagai keracunan dari pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung kontiniu/berkesinambungan, berdasarkan hal ini, maka tugas dan fungsi yang diemban oleh pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh berkembang secara dinamis, mulai dari kandungan sampai hayatnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa hakekat dari pendidikan Islam? 2. Apa fungsi pendidikan Islam? 3. Apa tujuan pendidikan Islam? BAB II PEMBAHASAN A. Hakekat Pendidikan Islam Kalau istilah pendidikan diartikan sebagai “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”, maka pendidikan itu pada hakekatnya adalah proses pembimbingan, pembelajaran atau pelatihan terhadap anak, generasi muda, manusia agar nantinya bisa berkehidupan dan melaksanakan peranan serta tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara.[1]Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[2] Pendidikan mempunyai arti yang sangat luas, yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta ketrampilan kepada generasi selanjutnya, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik jasmani maupun rohani.[3] Banyak ahli membahas pengertian pendidikan, tetapi dalam pembahasannya mengalami kesulitan, karena antara satu pengertian dengan pengertian yang lain sering terjadi perbedaan. Menurut Marimba, ia merumuskan pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[4] Pengertian tersebut sangat sederhana meskipun secara substansi telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan, dari pengertian itu pula pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik. Dari pengertian-pengertian pendidikan yang diungkapkan oleh para ahli di atas, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama pengertian secara sempit yang mengkhususkan pendidikan hanya untuk anak dan hanya dilakukan oleh lembaga atau instansi khusus dalam kerangka mengantarkan kepada kedewasaan, dan yang kedua pengertian secara luas, yang, mana pendidikan berlaku untuk semua orang dan dapat dilakukan oleh semua orang bahkan lingkungan. Tetapi dari perbedaan tersebut ada kesamaan tujuan yaitu untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi. Untuk memahami apa itu pendidikan Islam maka perlu kita ketahui juga mengenai Islam. Kata Islam menurut pandangan umum yang berlaku, biasanya mempunyai konotasi dengan dan diartikan sebagai agama Allah atau agama yang berasal dari Allah. Agama artinya adalah jalan, agama Allah berarti agama atau ajaran yang bersumber dari dimaksud adalah agama atau jalan hidup yang ditetapkan oleh Allah bagi manusia, untuk menuju dan kembali kepadaNya. Jadi agama Islam adalah jalan hidup yang telah ditetapkan Allah yang harus dilalui manusia, untuk kembali kepada Allah. Sedangkan secara etimologis, kata Islam tersebut memiliki banyak pengertian antara lain 1 berasal dari kata kerja aslama mengandung pengertian “menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat patuh dan tunduk, 2 berasal dari kata salima yang pengertian dasarnya “selamat, sejahtera, sentosa, bersih, dan bebas dari cacat dan cela, 3 juga berasal dari kata dasar salam yang berarti “damai, aman dan tentram.”[5] Walaupun kata Islam mengandung banyak arti, tetapi pada hakekatnya pengetian-pengertian dasar itu mengarah pada terwujudnya satu system kehidupan yang ideal bagi umat muslim.[6] Dalam konteks Islam, istilah pendidikan mengacu kepada makna dan asal kata yang membentuk kata pendidikan itu sendiri dalam hubungannya dengan ajaran Islam. Untuk memahami hakekat pendidikan Islam kita dapat mengkajinya dari istilah-istilah yang umum digunakan oleh para tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu, al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Setiap istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya. Walaupun dalam hal tertentu istilah-istilah tersebut juga mempunyai kesamaan makna. Hal tersebut sesuai dengan yang dihasilkan dalam konferensi Dunia tentang Pendidikan IslamWorld Conference in Islamic Education yang diadakan di Mekkah tahun 1977 memberikan rekomendasi tentang pengertian pendidikan menurut ajaran Islam sebagai berikut “the meaning of education in its totality in the context of Islam is inherent in the connotations of the terms tarbiyah, taklim, and ta’dib taken together. What each of these terms conveys concerning man and his society and environment in relation on God is related to the other, and together they represent the scope of education in Islam, both formal and non formal.”[7] Formulasi hakekat pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang tertuang dalam Al-qur’an dan sunnah, karena kedua sumber ini merupakan pedoman otentik dalam penggalian khazanah keilmuan apa pun. Dengan berpijak pada kedua sumber ini, diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang hakekat pendidikan Islam. Dalam al-qur’an memang tidak ditemukan secara khusus istilah al-tarbiyah, tetapi ada istilah yang senada dengan al-tarbiyah, yaitu ar-rabb, rabbayani, ribbiyun, rabbani. Selain itu, dalam sebuah hadits digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda. Merujuk kamus bahasa arab, akan ditemukan tiga akar kata untuk istilah tarbiyah. Pertama, raba yarbu yang artinya bertambah dan berkembang, kedua, rabiya yarba yang artinya tumbuh dan berkembang, ketiga, rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Sebagaimana yang ditulis Abdu Rahman bahwa kata tarbiyah memiliki tiga akar kata, إذ رجعنا إلى معاجم اللغة العربية التربية أصولاً لغوية ثلاثة الأصل الأول ربا يربو بمعنى زاد ونما, وفي هذا المعنى نزل قوله تعالى !$tBur OçF÷s?uä `ÏiB $\/Íh uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$ Ÿxsù qç/ötƒ y‰YÏã !$ الروم39. الأصول الثاني ربيَ يربى على وزن خفي يخفى, ومعناها نشأ وترعرع. وعليه قول ابن الأعرابي فمن يكُ سائلا عنى فإني بمكة منزلي وبها ربيتُ الأصل الثالث ربَّ يرب مدّ يمدّ بمعنى أصلحه, وتولى أموره, وساسه وقام عليه ورعاه, من هذا المعنى قول حسان بن ثابت كما أورده ابن منظور في لسان العرب ولأنت أحسن إذ برزت لنا يوم الخروج بساحة القصر. من درة بيضاء صافية مما تربّب حائر البحر وقال يعنى الدرة التي يربيها في الصدف, وبين بأن معنى تربب حائر البحر أي مما ترببة أي رباه مجتمع الماء في البحر. قال ورببت الأمر أربّه ربّاً ورباباً أصلحته ومتّنته. وقد اشتق بعض الباحثين من هذه الأصول اللغوية تعريفاً للتربية,قال الإمام البيضاويالمتوفى 685 هفي تفسيره أنوار التنزيل وأسرار التأويل الرب في الأصل بمعنى التربية وهي تبليغ الشيء إلى كماله شيئاً فشيئاً, ثمّ وصف به تعالى للمبالغة. وفى كتاب مفردات الراغب الأصفهانى المتوفى 502 ه الرب في الأصل التربية وهو إنشاء الشيء حالاً فحالاً إلى حد التمام. وقد استنبط الأستاذ عبد الرحمن الباني من هذه الأصول اللغوية أن التربية تتكون من عناصر أولها المحافظة على فطرة الناشئ ورعايتها. ثانيها تنمية مواهبه واستعداداته كلها, وهي كثيرة متنوعة. ثالثها توجيه هذه الفطرة وهذه المواهب كلها نحو صلاحها و كمالها اللائق بها. رابعها التدريج في هذه العملية, وهو ما يشير إليه البيضاوي بقوله.......شيئاً فشيئا والراغب بقولهحالاً فحالاً...... ثم يستخلص من هذا نتائج أساسية في فهم التربية. أولاها أن التربية عملية هادفة, لها أغراضها وأهدافها وغايتها. النتيجة الثانية أن المربي الحق على الإطلاق هو الله الخالق خالق الفطرة وواهب المواهب, وهو الذي سنّ سنناً لنموها وتفاعليها, كما أنه شرع شرعاً لتحقيق كمالها وصلاحها وسعادتها. النتيجة الثالثة أن التربية تقتضي خططاً متدرجة تسير فيها الأعمال التربوية و التعليمية وفق ترتيب منظم صاعد, ينتقل مع الناشئ من طور إلى طور ومن مرحلة إلى مرحلة. الرابعة أن عمل المربي وتابعّ لخلق الله وإيجاده, كما أنه تابع لشرع الله ودينه. وهذا التحليل لمعنى التربية ونتائجها يؤدّي بنا إلى معنى الشرع و الدين. لأن التربية تستمد جذورها منه, فطبيعة النفس الإنسانية طبيعة متدينة و الإنسان في الحقيقة حيوان متديّن كما سنوضح ذلك عند بحث خصائص التربية الإسلامية.[8] Apabila al-tarbiyah diidentikkan dengan ar-rabb, para ahli memberikan pengertian yang beragam. Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi memberikan arti ar-rabb dengan Pemilik, Tuan, Yang Maha Memperbaiki, yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambahkan dan Yang Maha Menunaikan. Pengertian ini merupakan interpretasi dari kata ar-rabb dalam surah Al-fatihah dan yang merupakan nama dari nama-nama Allah dalam Asmaul Husna. Selanjutnya Fahrurrazi berpendapat bahwa ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-tarbiyah yang mempunyai makna al-tanmiyah pertumbuhan dan perkembangan. Menurutnya, kata rabbayani tidak hanya mencakup pengajaran yang bersifat ucapan, tetapi juga meliputi pengajaran sikap dan tingkah laku. Sementara Sayyid Quttub menafsirkan kata rabbayani sebagai pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Apabila istilah al-tarbiyah diidentikkan dengan bentuk madi-nya rabbayani sebagaimana yang tertera dalam ZŽÉó¹’ÎT$u‹/u$ ayat 24 dan bentuk mudari’-nya nurabbi dalam ayat 18óOs9r&y7În/tçR$uZŠÏùY‰‹Ï9ur, al-tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, memproduksi, dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks kalimat dalam surah al-Isra’ lebih luas, mencakup aspek jasmani-ruhani, sedang dalam QS al-Syu’ara hanya mencakup aspek jasmani. Selanjutnya, istilah rabbaniyyin disebutkan dalam al-qur’an dalam QS. Ali Imran 79, "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”[9] Dengan mencermati ayat di atas, bisa dipahami bahwa arti al-tarbiyah sebagai padanan dari rabbani adalah proses transformasi ilmu pengetahuan. Proses rabbani bermula dari proses pengenalan, hapalan, dan ingatan yang belum menjangkau proses pemahaman dan penalaran.[10] Ahli pendidikan Islam, Al-Baidhawi, menyatakan bahwa tarbiyah bermakna”menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan” secara bertahap. Sementara Naquib al-Attas menjelaskan, bahwa tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara, menjaga, dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang, dan tumbuhan. Kosakata Rabb dijadikan salah satu rujukan dalam menyusun konsep pendidikan Islam oleh para ahli didik. Selain konsep tarbiyah, sering pula digunakan konsep ta’lim untuk pendidikan Islam. Secara terminology, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini, ta’lim cenderung dipahami sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas anak didik. Kecenderungan semacam ini, pada batas-batas tertentu telah menimbulkan keberatan pakar pendidikan untuk memasukkan ta’lim ke dalam pengertian pendidikan. Menurut mereka, ta’lim hanya merupakan salah satu sisi pendidikan.[11] Kemudian landasan pemikiran berikutnya dalam pendidikan Islam dapat dirujuk dari kata ta’dib. Menurut pemahaman Naquib al-Attas, ta’dib mengundang pengertian mendidik dan juga sudah merangkum pengertian tarbiyah dan ta’lim, yaitu pendidikan bagi manusia. Di samping itu, pengertian tersebut mempunyai hubungan erat dengan kondisi pendidikan ilmu dalam Islam. Sesungguhnya, bila dicermati pemaknaan dari masing-masing istilah, baik al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib, semuanya merujuk kepada yang ditenggarai sebagai kata bentukan dari kata rabb atau rabba mengacu kepada Allah sebagai Rabb al-alamin. Sementara ta’lim yang berasal dari kata allama, juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Alim. Selanjutnya, kata ta’dib seperti termuat pada sabda Rasulullah SAW “Adabbani Rabbi faahsana ta’dibi”, menjelaskan bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah. Rasul sendiri menegaskan bahwa beliau dididik oleh Allah sehingga karenanya Rasulullah SAW, merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan.[12] Berdasarkan atas pengertian al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib di atas, para ahli pendidikan Islam juga mencoba memformulasikan hakekat pendidikan Islam, dan seperti pemaknaan istilah pendidikan, formulasi hakekat pendidikan Islam ini juga berbeda satu sama lain. Inilah beberapa di antara formulasi tersebut[13] - Muhammad Fadlil al-Jamaly memberikan arti pendidikan Islam dengan upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. - Omar Mohammad al-Toumy al-Syaebany mendifinisikan pendidikan islam sebagai usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau masyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandasakan nilai Islam. - Muhammad Munir Mursyi mengatakan bahwa pendidikan islam adalah pendidikan fitrah manusia. Disebabkan Islam adalah fitrah maka segala perintah, larangan, dan kepatuhannya dapat mengantarkan mengetahui fitrah ini. Sedangkan dalam kitab usulu at-tarbiyah al-islamiyah wa asalibiha disebutkan bahwa pendidikan Islam adalah التربية الإسلامية هى التنظيم النفسي و الاجتماعي الذى يؤدي إلى اعتناق الإسلام و تطبيقه كلياً في حياة الفرد و الجماعة فالتربية الاسلامية ضرورة حتمية لتحقيق الاسلام كما أراده الله أن يتحقق, وهي بهذا المعنى تهيئة النفس الانسانية لتحمّل هذه الأمانة, وهذا يعني بالضرورة أن تكون مصادر الإسلام هي نفسها مصادر التربية الاسلامية, وأهمها القرآن والسنّة .[14] Maka, dapat ditarik kesimpulan pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia, baik individu, maupun social untuk mengarahkan potensi, baik potensi dasar, maupun ajar yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spiritual berlandasan nilai Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. B. Fungsi Pendidikan Islam Pendidikan agama Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu aspek pertama yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian anak, dan kedua, yang ditujukan kepada pikiran yakni pengajaran agama Islam itu sendiri. Aspek pertama dari pendidikan Islam adalah yang ditujukan pada jiwa atau pembentukan kepribadian. Artinya bahwa melalui pendidikan agama Islam ini anak didik diberikan keyakinan tentang adanya Allah swt. Aspek kedua dari pendidikan Agama Islam adalah yang ditujukan kepada aspek pikiran intelektualitas, yaitu pengajaran Agama Islam itu sendiri. Artinya, bahwa kepercayaan kepada Allah swt, beserta seluruh ciptaan-Nya tidak akan sempurna manakala isi, makna yang dikandung oleh setiap firman-Nya ajaran-ajaran-Nya tidak dimengerti dan dipahami secara benar. Di sini anak didik tidak hanya sekedar diinformasikan tentang perintah dan larangan, akan tetapi justru pada pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana beserta argumentasinya yang dapat diyakini dan diterima oleh akal. Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi pendidikan islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan tetapi hendaklah mengacu kepada konseptualisasi manusia paripuma insan kamil yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan islam. Fungsi pendidikan Agama Islam di sini dapat menjadi inspirasi dan pemberi kekuatan mental yang akan menjadi bentuk moral yang mengawasi segala tingkah laku dan petunjuk jalan hidupnya serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Agama Islam adalah 1. Memperkenalkan dan mendidik anak didik agar meyakini ke-Esaan Allah swt, pencipta semesta alam beserta seluruh isinya; biasanya dimulai dengan menuntunnya mengucapkan la ilaha illallah. 2. Memperkenalkan kepada anak didik apa dan mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang hukum halal dan haram. 3. Menyuruh anak agar sejak dini dapat melaksanakan ibadah, baik ibadah yang menyangkut hablumminallah maupun ibadah yang menyangkut hablumminannas. 4. Mendidik anak didik agar mencintai Rasulullah saw, mencintai ahlu baitnya dan cinta membaca al-Qur’an. 5. Mendidik anak didik agar taat dan hormat kepada orang tua dan serta tidak merusak lingkungannya. Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk Pertama, Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional; Kedua, Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan islam secara mikro adalah proses penanaman nilai nilai ilahiah pada diri anak didik, sehingga mereka mampu mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan prinsip-prinsip religius. Secara makro pendidikan islam berfungsi sebagai sarana pewarisan budaya dan identitas suatu komunitas yang didalamnya manusia melakukan interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Secara umum fungsi pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.[15] Bila dilihat dati operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dua bentuk 1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional. 2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Fungsi pendidikan Islam, dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 151 !$yJx. $uZù=y™ör& öNà6‹Ïù Zwqß™u öNà6ZÏiB qè=÷Gtƒ öNä3ø‹n=tæ $oYÏG»tƒuä ãNà6ßJÏk=yèãƒur =»tGÅ3ø9$ spyJò6Ïtø$ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 qçRqä3s? tbqßJn=÷ès? ÇÊÎÊÈ Artinya “Sebagaimana kami telah mengutus kepada kamu sekalian seorang rasul diantara kau yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu, menyucikan mu, mengajarkan al-Kitab, dan al-hikmah, dan mengajarkan kepadamu yang belum kamu ketahui"QS. Al-Baqarah 151. Dari ayat di atas ada lima 5 fungsi pendidikan yang dibawa Nabi Muhammad, yang dijelaskan dalam tafsir al-Manar karangan Muhammad Abduh[16] a. Membacakan ayat-ayat kami, ayat-ayat Allah ialah membacakan ayat-ayat dengan tidak tertulis dalam al-Quran al-Kauniyah, ayat-ayat tersebut tidak lain adalah alam semesta. Dan isinya termasuk diri manusia sendiri sebagai mikro kosmos. Dengan kemampuan membaca ayat-ayat Allah wawasan seseorang semakin luas dan mendalam, sehingga sampai pada kesadaran diri terhadap wujud zat Yang Maha Pencipta yaitu Allah. b. Menyucikan diri merupakan efek langsung dari pembacaan ayat-ayat Allah setelah mengkaji gejala-gejalanya serta menangkap hukum-hukumnya. Yang dimaksud dengan penyucian diri menjauhkan diri dari syirik menyekutukan Allah dan memelihara akhlaq al-karimah. Dengan sikap dan perilaku demikian fitrah kemanusiaan manusia akan terpelihara. c. Yang dimaksud mengajarkan al-kitab ialah al-Quran al-karim yang secara eksplisit berisi tuntunan hidup. Bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. d. Hikmah, menurut Abduh adalah hadits, akan tetapi kata al-hikmah diartikan lebih luas yaitu kebijaksanaan, maka yang dimaksud ialah kebijaksanaan hidup berdasarkan nilai-nilai yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Walaupun manusia sudah memiliki kesadaran akan perlunya nilai-nilai hidup, namun tanpa pedoman yang mutlak dari Allah, nilai-nilai tersebut akan nisbi. Oleh karena itu, menurut Islam nilai-nilai kemanusiaan harus disadarkan pada nilai-nilai Ilahi al-Quran dan sunnah Rasulullah. e. Mengajarkan ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap, itulah sebabnya Nabi Muhammad mengajarkan pada umatnya ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh umat sebelumnya. Karena tugas utamanya adalah membangun akhlak al-Karimah.[17] Dengan mengembalikan kajian antropologi dan sosiologi ke dalam perspektif al-Quran dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenal jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga tumbuh kemampuan membaca analisis fenomena alam dan kehidupan serta memahami hukum-hukum yang terkandung didalamnya. Dengan himbauan ini akan menumbuhkan kreativitas sebagai implementasi identifikasi diri pada Tuhan "pencipta". Membebaskan manusia dari segala analisis yang dapat merendahkan martabat manusia fitrah manusia, baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Mengembalikan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun sosial.[18] C. Tujuan Pendidikan Islam Setiap langkah manusia tentunya disertai dengan tujuan, bagitu pula halnya dengan dunia pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat penting dalam menentukan arah yang hendak dicapai atau ditempuh dalam masyarakat tertentu. Sebab tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, proses pendidikan menjadi acak-acakan, tanpa arah atau salah langkah. Berkaitan dengan hal tersebut maka pendidikan Islam harus menyadari betul apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam arti islam adalah sesuatu yang khusus hanya untuk manusia”, demikian menurut Syed Muhammad al-Naquib al-Attas. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam secara filosofis seyogianya memiliki konsepsi yang jelas dan tegas mengenai manusia. Kalau pendidikan dalam islam hanya untuk manusia, manusia yang bagaimana yang dikehendaki pendidikan islam? Marimba menyebutkan bahwa manusia yang dikehendaki oleh pendidikan islam adalah manusia yang berkepribadian muslim. Dilihat dari segi kebahasaan kata tujuan berakar dari kata dasar tuju yang berarti arah atau jurusan. Maka, tujuan berarti maksud atau sasaran atau dapat juga berarti sesuatu yang hendak dicapai. Sementara pengertian tujuan secara istilah adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha.[19] Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh Al-Syaibany, menurut beliau yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup, atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu kreativitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[20] Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan tujuan pendidikan ialah hasil akhir yang diinginkan atau yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Abuddin Nata 1997 berpendapat, sebagai sesuatu kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya perumusan dan penetapan tujuan pendidikan islam harus memenuhi kriteria berikut a. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai kehendak Tuhan. b. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi dilakukan dalam rangka pengabdian/beribadah kepada Allah. c. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia sehingga tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya. d. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmani guna pemilikan pengetahuan, akhlak dan keretampilan yang dapat digunakan mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya. e. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[21] Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Ada empat fungsi tujuan pendidikan menurut rumusan Ahmad D. Marimba, yaitu 1. Tujuan berfungsi mengakhiri usaha, 2. Tujuan berfungsi mengarahkan usaha, 3. Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama, 4. Tujuan memberi nilai pada sifat pada usaha itu.[22] Zuhairini, dkk 1995 berpendapat bahwa tujuan adalah dunia cinta yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan. Hasan Langulung 1989 memberi pentahapan tujuan pendidikan islam menjadi tiga tingkat 1. Tujuan tertinggi, tujuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan mengalami perubahan baik dalam dimensi ruang waktu yang berbeda-beda. 2. Tujuan umum, lebih menekankan pada pendekatan empirik. 3. Tujuan khusus, tujuan ini adalah perubahan yang diharapkan dari tujuan-tujuan umum secara lebih spesifik lagi. Dalam konteks tujuan pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung, bahwa tujuan pendidikan islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, antara lain 1. Fungsi spiritual, yaitu berkaitan dengan akidah dan iman. 2. Fungsi psikologis, yaitu berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna. 3. Fungsi social, yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, yang mana masing-masing mempunyai hak untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[23] Al-Syaibani memberikan rumusan tentang prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam konseptualisasi tujuan Islam. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah menyeluruh, keseimbangan, kejelasan, tidak ada pertentangan, relistis, dan dapat dilaksanakan, perubahan pada arah yang dapat dikehendaki, menjaga perbedaan-perbedaan perseorangan dan dinamis serta menerima perubahan. Dari prinsip-prinsip tersebut maka dapat dirumuskan tujuan pendidikan yang lebih fungsional sesuai dengan kondisi social dan non social yang melingkupi proses pendidikan.[24] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani 1979 juga merumuskan tujuan pendidikan islam sejalan dengan misi islam itu sendiri, yaitu “mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlakul karimah”. Sementara Jalaluddin dan Usman Said menyimpulkan tujuan pendidikan islam telah terangkum dalam kandungan surat al-Baqarah 2 ayat 201 رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ٢٠١ "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat ". Menurut Mohammad Athiyah al-Abrosyi 1980 tujuan pendidikan islam adalah “Membantu pembentukan akhlak yang mulia, mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat, menumbuhkan ruh ilmiah scientific spirit pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui curiosity dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekadar sebagai ulmu, menyiapkan pelajaran agar dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki, hidup mulia dengan tetap memelihara kerihanian dan keagamaan, serta mempersiapkan kemampuan mencari dan mendayagunaan rezeki.[25] Untuk mengetahui tujuan pendidikan harus berdasar atas tinjauan filosofis. Menurut Imam Barnadib tujuan pendidikan secara umum dijelaskan seperti berikut[26] 1. Jika pendidikan bersifat progresif, tujuannya harus diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman. Dalam hal ini pendidikan bukan sekedar menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, melainkan pula melatih kemampuan berfikir dengan memberikan stimulun, sehingga mampu berbuat sesuai dengan intelegensi dan tuntutan lingkungan. Aliran ini dikenal dengan aliran progresivisme. 2. Jika yang dikehendaki pendidikan adalah nilai yang tinggi, pendidikan pembawa nilai yang ada di luar jiwa anak didik, sehingga ia perlu dilatih agar mempunyai kemampuan yang tinggi. Aliran ini dikenal dengan esensialisme. 3. Jika tujuan pendidikan yang dikehendaki agar kembali kepada konsep jiwa sebagai tuntutan manusia, prinsip utamanya ia sebagai dasar pegangan intelektual manusia yang menjadi sarana untuk menemukan evidensi sendiri. aliran ini dikenal dengan perenialisme. 4. Menghendaki agar anak didik dibangkitkan kemampuannya secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan masyarakat karena adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan penyesuaian ini, anak didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas yang dikenal dengan aliran rekonstruksionisme. Tujuan tersebut di atas berangkat dan terkait dengan definisi pendidikan sesuai dengan alirannya masing-masing. Demikian juga dengan tujuan pendidikan Islam. Jika berangkat dari definisinya, tujuannya adalah terbentuknya kepribadian yang utama berdasarkan pada nilai-nilai dan ukuran ajaran Islam dan dinilai bahwa setiap upaya yang menuju kepada proses pencarian ilmu dikategorikan sebagai upaya perjuangan di jalan Allah. Charles Hummel mengemukakan, bahwa dalam menentukan tujuan pendidikan ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan. Pertama autonomy, yaitu memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu meupun kelompok untuk hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. Kedua, equity, berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untu dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikannya pendidikan sebagai bekal hidup. Ketiga survival, yaitu dengan pendidikan akan menjamin pewarisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.[27] Proses pendidikan terkait dengan kebutuhan dan tabiat menusia tidak terlepas dari tiga unsur, yaitu jasad, ruh, dan akal. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam secara umum harus dibangun berdasarkan tiga komponen tersebut, yang masing-masing harus dijaga keseimbangannya. Maka dari sini, tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga; 1. Pendidikan jasmani Keberadaan manusia telah diprediksikan sebagai khalifah yang akan berinteraksi dengan lingkungannya, maka keunggulan fisik memberikan indikasi kualifikasi yang harus diperhitungkan, yaitu kegagahan dan keperkasaan seorang raja. Hal ini sebagaiman yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, Nabi mereka berkata "Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. QS. Al-Baqarah 247. Fisik memang buka tujuan utama. Akan tetapi ia sangat berpengaruh. Ia berpengaruh dan memegang peran penting, sampai-sampai kecintaan Allah terhadap orang mukmin lebih diprioritaskan untuk orang yang mempunyai keimanan yang kuat dan fisik yang kuat dibandingkan dengan orang yang mempunyai keimanan yang kuat, tetapi fisiknya lemah. Rasulullah bersabda, “orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.”. Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menumbuhkan, menguatkan, dan memelihara jasmani dengan baik. Dengan demikian, jasmani mampu melaksanakan berbagai kegiatan dan beban tanggung-jawab yang dihadapinya dalam kehidupan individu dan social. 2. Pendidikan akal Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berfikir benar. Pendidikan intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realitas secara tepat dan benar. Hal ini akan menghasilkan keputusan atas segala sesuatu yang dipikirkan menjadi tepat dan benar. Beberapa cara untuk mencapai keberhasilan pendidikan intelektual, yaitu melatih perasaan peserta didik untuk meningkatkan kecermatannya, melatih peserta didik untuk mengamati sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat, melatih daya intuisi sebagai sarana penting bagi daya cipta, dan membiasakan anak didik berfikir sistematis dan menanamkan kecintaan berfikir sistematis. Dengan demikian tujuan pendidikan akal terikat perhatiannya dengan perkembangan intelegensi yang mengarahkan manusia sebagai individu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya yang mampu memberikan pencerahan diri. 3. Pendidikan akhlak Akhlak mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam, untuk mencapai keridhaan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, dijelaskan tentang sendi-sendi agama yang bertumpu pada tiga komponen, yaitu iman, Islam, ihsan. Ketiganya merupakan system yang dalam praktik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, tetapi merupakan totalitas untuk mewujudkan akhlaq al-karimah dalam setiap perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupan. Pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan utama yang harus disuritauladankan oleh guru pada anak didik. Tujuan utama dari pendidikan islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, jiwa bersih, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui kewajiban dan melaksanakannya, menghormati hak-hak manusia, dapat membedakan buruk dan baik, memilih fadhilah karena cinta fadhilah, menghindari perbuatan tercela dan mengingat Tuhan di setiap melakukan pekerjaan. Pendidikan akhlak bertujuan untuk membina kualitas manusia prima dengan ciri-ciri, antara lain a. beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, b. berakal sehat atau mempunyai kemampuan akademik, yaitu mampu mengembangkan kecerdasannya dengan mencintai ilmu terutama yang sesuai dengan bakatnya, c. mempunyai kematangan kepribadian, berbudi luhur, jujur, amanah, barani, qanaah, sabar, bertanggung jawab dan percaya diri, d. mempunyai ketrampilan belajar, bekerja dan beramal saleh, disiplin kreatif dan inovatif.[28] Sementara itu, Mahmud al-Sayyid Sultan dalam Mafahim Tarbawiyah fi al-Islam menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam islam haruslah memenuhi beberapa karakteristik, seperti kejelasan, keumuman, universal, integral, rasional, aktual, ideal, dan mencakup jangkauan untuk masa yang panjang. Dengan karakteristik ini, tujuan pendidikan islam harus mencakup aspek kognitif fikriyah ma’rafiyyah, afektif khuluqiyyah, psikomotor jihadiyyah, spiritual ruhiyyah, dan sosial kemasyarakatan ijtima’iyyah. Laporan hasil World Conference on Muslim Education yang pertama di Makkah 31 Maret-8 April 1977 menyebutkan “Education should aim at balanced growth of the total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feelings and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects; spiritual, intellectual, and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the attainment of perpection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large.” Dari kutipan di atas tampak bahwa pendidikan islam memiliki dua tujuan, yaitu tujuan antara dan tujuan akhir. Kedua tujuan ini disebut oleh Abdul Rahman Salih Abdullah dengan istilah objectives dan aims atau dalam terma Arabnya ahdaf dan ghayah.[29] Sedangkan menurut Muhammad bin Salim bin Ali Jabir bahwa tujuan pendidikan Islam itu ada empat tingkat والأهداف التربوية الإسلامية تدور حول أربعة مستويات الأول الأهداف التي تدور على مستوى العبودية لله - سبحانه وتعالى - أو إخلاص العبودية لله. الثاني الأهداف التي تدور على مستوى الفرد؛ لإنشاء شخصية إسلامية ذات مثل أعلى يتصل بالله تعالى. الثالث الأهداف التي تدور حول بناء المجتمع الإسلامي، أو بناء الأمة المؤمنة. الرابع الأهداف التي تدور حول تحقيق المنافع الدينية والدنيوية.[30] Sedangkan menurut Athbiya’ al-Abrasy tujuan pendidikan Islam ada lima, yaitu 1. Membantu pembentukan akhlak yang mulia 2. Mempersiapkan untuk kehidupan dunia dan akhirat 3. Membentuk pribadi utuh, sehat jasmani dan rohani. 4. Menumbuhkan ruh ilmiah, sehingga memungkinkan murid mengkaji ilmu semata untuk ilmu itu sendiri. 5. Menyiapkan murid agar mempunyai profesi tertentu sehingga dapat melaksanakan tugas dunia dengan baik atau singkatnya persiapan untuk mencari rizki[31] Pendapat lain mengatakan bahwa tujuan umum dari pendidikan Islam adalah الأهداف الروحي و الخلقي تهيئة الفرص المناسبة للطفل في هذه المرحلة لينمو روحيا وخلقيا متفهما مبادئ دينه الحنيف حتى تتكون لدية العقائد و الاتجاهات الدينية النمو العقلي تزويد الطفل بأنواع المعرفة الضرورية وبطريقة مبسطة حتى ينتهي منها وهو على معرفة بالقراءة و الكتابة و التعبير متمكنا من العمليات الأساسية فلي الحساب قادرا على استخدامها في حياته العادية النمو الجسمي أن يلتزم الطفل بالقواعد الصحية العامة و يتبعا عن اقتناع بأهميتها لسلامة جسمه وبذلك نصل إلى غرس العادات الصحية الأساسية. النمو النفسي أن ينموا الطفل على درجة طيبة من الصحة النفسية الخالية من المرض النفسي متمشيا مع القدرة على الإحساس و الجمال و التذوق الفني. النمو الاجتماعي مساعدة الطفل على النمو في مجتمع ارتضى النظام الديمقراطي وغرس عادات السلوك الاجتماعي عن طريق المواد الأساسية و النشاطات المختلفة . القومي تربية الطفل على الاعتزاز بوطنه وأمته العربية وذلك عن طريق تعريفة للمظاهر الطبيعة و الاجتماعية لوطنه الكويت و تاريخ الأمة العربية الإسلامية.[32] Dari berbagai tujuan pendidikan Islam di atas menggambarkan berapa luasnya ruang lingkup dan sasaran yang harus dicapai pendidikan islam. Namun demikian, patokan yang kita pegangi bahwa pada hakekatnya tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan kehidupan umat manusia khususnya umat Islam, yang pada intinya untuk memperoleh kesejahteraan hidup harus di dunia dan akhirat. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pewaris para nabi waratsatul Anbiya’, para pendidik hendaklah bertolak pada amar ma’ruf dan nahi munkar dalam artian menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat penyebaran misi iman, Islam dan ihsan, dan kekuatan rohani pokok yang dikembangkan oleh pendidikan adalah individualitas, sosialitas dan moralitas nilai-nilai agama dan moral. 2. Fungsi Pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. 3. Tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa yaitu sosok manusia yang memahami peran dan fungsinya dalam kehidupan, serta manyandarkan semuanya pada ajaran dan hukum Allah SWT dan Rasulullah SAW. B. Saran Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari tentunya makalah ini tak lepas dari kesalahan-kesalahan, baik itu kesalah tulisan atau kesalahan materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari segenap pembaca dan dosen pengampu senantiasa kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar Abduh, M. Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, As Said, Muhammad. 2011. Filsafat Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta Mitra Pustaka Daradjat, Zakiah. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. Haitami, Moh. Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media Hummel, Charles. 1977. Education Today for the World of Tomorrow, paris unisco Langgulung. 1998. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna Muchsin, Bashori, dkk. 2010. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif Salih Abdullah, Abdul Rahman. Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta Ar-Ruzz Media. Syar’I, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. Tim dosen Sunan Ampel-Malang. 1996. Dasar-dasar Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama Usman. 2010. Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. Teras Yogyakarta Teras. عبد الرحمن أصول التربية الإسلامية. دمشق دار الفكر. سعيد إسماعيل أصول التربية الإسلامية. القاهرة دار السلام. عبد الوهاب عبد السلام طويلة. 2003 .التربية الإسلامية وفن التدريس. القاهرة دار السلام. ماجد زكي الجلاد. 2004 . تدريس التربية الإسلامية. عمان دار المسيرة. [1] Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. 2004 [2]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 28 [3] Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna, 1998 [4] Ahmad Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif, 1989 [5]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 7 [7]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 13 [8] عبد تارحمن النحلوى. أصول التربية الإسلامية . دمشق دار الفكر, 1996 [10]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 31 [11]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 15 [12]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 16 [13]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 32 [14] Abdurahman alnahlawi. Usulu Tarbiyah Al-Islamiyah wa Asalibiha. Bairut Darul Fikr. 21 [15]. Dr. Usman, Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. 2010. Teras Yogyakarta, hlm. 115. [16]. M. Abduh, Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, hlm. 29 [18]. Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 36-37 [19]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 113 [20]Ibid, Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 114 [21]. H. Ahmad Syar’i Filsafat Pendidikan Islam. 2005. Firdaus Jakarta, hlm. 24-25 [22]Ibid. Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 115 [23] Hasan Langgulung. Beberapa pemikiran tentang Pendidikan Al-Ma’arif. 1980 [24] Ahmad Syar’i. filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. 2005. Hlm 24 [25]. H. Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, 2005, Firdaus Jakarta, hlm. 28-29 [26]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 116 [27]. Charles Hummel, Education Today for the World of Tomorrow, 1977, paris unisco. Hlm. 39 [28]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 117-120 [29]. Abdul Rahman Salih Abdullah, Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, hlm. 114 [31]Bashori Muchsin, dkk. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. 2010. Hlm 11
makalah fungsi dan tujuan pendidikan